Total Tayangan Halaman

Rabu, 25 Maret 2015

tOekangpoto, Bukan Sekedar Tukang Foto.




foto diambil dari sini

Acara Milad ke 4 tOekangpoto menjadi event pertama tOekangpoto yang saya ikuti. Meski sudah menjadi member di group sejak awal keberadaannya saya belum pernah kesampaian untuk ikut acara-acara yang diadakan oleh mereka. Baik itu acara hunting foto, kopdar atau event –event lainnya. Bahkan ketika acara pameran foto  di blok M yang saya impikan untuk melihat hasil karya anak-anak korban gunung merapi pun pupus.

Alhamdulillah, tanggal 19 Maret 2015 malam,   tikum keberangkatan di stasiun Senen menjadi  awal perjumpaan saya dengan Mbak Amel, Ito, Eka, Zuli, Ira, Mas Dodo,  Pak Oman, Adam, Mas Hafiez & istri berserta Aisyah anak mereka yang pertama kali saya temui,  dan seorang mas yang kemudian saya ketahui ternyata yang biasa dipanggil akrab Mbah oleh yang lain.
Meski sebelumnya saya diundang bergabung dalam grup wasap milad mereka, saya yang termasuk pendiam dan kalem ini, ehem,  agak mati gaya mencoba berbaur. Harapan untuk mengenal secara personal bebrapa teman wanita ketika perjalan menuju Solo akhirnya pun tidak terwujud. Saya berada di gerbong dan kereta yang berbeda dengan mereka. Hahaha. Jangan tanya kenapa saya bisa terpisah rombongan begini.

Stasiun Solo Balapan merupakan titik kumpul semua peserta yang berdatangan dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Semarang. Bahwa ada perserta dari dari Palembang, Gorontalo dan Lampung. Kekuatan apa yang bisa membuat event acara yang “hanya” berbiaya berbilang ratusan ribu ini mampu didatangi oleh peserta dengan mengeluarkan biaya akomodasi yang berlipat-lipat kalinya dari biaya kesertaannya?

Selama acara hunting, walau peserta telah dibagi per kelompok. Ternyata keinginan anggota tp untuk berbagi ilmu melewati batas, baik kelompok, umur dan senioritas pengalaman. Semua terlihat antusias membagi ilmunya secara cuma-cuma. Berkali-kali ditengah kebingungan #sambil pegangan :D  tiba-tiba ada saja yang berbagi tips bagaimana cara menyiasati cahaya, angle, dan lain lain.ahh, such a bleesed. Di Padepokan Keris Brojobuwono, tempat hunting foto kami pertama, saya dibisiki cara mendapatkan percikan api para penempa keris, atau bagaimana mengakali cahaya natural di spot pengikir dan cara mengambil angle yang pas bapak pemahat, semua tanpa saya tanya. di Waduk Lalung ketika matahari malu-malu muncul dan saya asyik  mencari spot-spot untuk makro atau sekedar mencuri moment candid peserta lain, sayapun dibuat senang ketika beberapa mas-mas yang menunjukkan dan berbagi spot dengan mereka yang sedang memoto  para pemancing cilik. Disini saya belajar bagaiman bisa “mengatur” pose para pemancing.  Di air terjun Jumog berkali-kali hasil foto saya menunjukkan hasil yang aneh, utak atik berbagai setingan justru makin memupuskan harapan. Saya edarkan pandangan ke sekitar, saya mencoba menikmati pemandangan undakan air terjun yang bertingkat dengan lensa sempurna milik penciptanya. Indah dan menenangkan. Saya kembali tersemangati demi melihat beberapa peserta yang nyemplung dengan bebagai pose. Apalagi sebelumnya saya sedikit mendapat tips tentang pemakaian filter untuk air untuk mendapatkan efek kapas, tanpa pelitpun filter tersebut sempat dipinjamkan ke peserta lain termasuk saya oleh salah satu senior. Alhamdulillah….beberapa foto cukup menyenangkan hati dapat saya rekam di kamera saya. Hal yang sama juga berulang terjadi ketika hunting foto pemetik teh, sunrise di Candi Ceko. Maaf nama-nama tidak saya mentioned, Allahlah sebaik-baik pembalas. Moga ilmu yang disharing ke kami menjadi amal.  

Hunting foto dengan berbagai aplikasi teori dan teknik udah dilalui, ternyata peserta masih dimanjakan dengan sesi foodphotography  oleh panitia. Adalah Mas Yulim Wicak yang membuat heboh peserta dengan tips-tips dasar foodphotography yang keren-keren.

foto diambil dari sini

Tidak hanya keseruan berlimpah ilmu yang saya dapatkan dalam acara ini. Jujur saya seperti dejavu menghabiskan 3 hari bersama teman-teman yang sebagian baru saya kenal saat itu. Dejavu seperti kembali ke masa-masa rihlah dengan tema-teman jaman sma dan kuliah. It feels like home

Kehangatan dan keakraban sangat kental saya rasakan. Saya sempat kaget bercampur senang ketika Sil Sil mengajak langsung selfie dengan kameranya di jumpa 10 menit pertama kami, tanpa sungkan dia memperlihatkan hasil fotonya dengan harapan saya mau memperlihatkan hasil foto saya," saling belajar yah mbak” begitu dia menjelaskan maksudnya. Beberapa kali kami saling mencari spot bareng, saya kagum dengan angle ga biasa SilSil.
Lain lagi dengan Mbak Woro, peserta dari Magelang ini terlihat bersenang hati membawa tas yang cukup besar, yang ternyata isinya logistik untuk kami di kelompok 8.  Mbak Amel yang saya dibuat kagum akan kegigihannya mencari spot foto, si pecinta operasi kamera manual yang darinya saya diceritakan tentang pengalaman naek gunung beserta tipsnya. Hahaha, sesaat merasa sedang diracuni untuk naek gunung. Omah yang diam kalemnya ternyata menghanyutkan hasil-hasil fotonya. Endra, Duta Wisata Banjarnegara,  ‘ammah kedoyanan Aisyah dan Bulan, favorite Yasmin juga untuk bercerita tentang alam-alam. Zuli yang kalemnya menenangkan. Bu Ika, Ibu Rini, Bu Rahma, Mbak Amel yang keibuannya terasa menganyomi kami selama 3 hari #tsaahh mengayomi. Mbak Eka, Mbak Ito, Mbak Nur, Mbak Mul, Ika DJ, Fajri, Ira,  keriaan kalian membuat saya melalui 3 hari  naek bis tanpa AC, menapaki jalanan Solo-KarangAnyar yang berlubang, menghabiskan malam di aula mesjid Agung Karang Anyar, di uula kecamatan, menghitung masa antri kamar mandi dari jam 3 pagi, menjadi menyenangkan untuk dilalui.

Terima kasih tOekangpoto, telah memberikan kesempatan saya untuk bergabung di komunitas ini. Semoga proyek besar yang sedang digodog segera terealisasi. Semoga tahun kedepan, tOekangpoto  makin peduli dan menginspirasi. Kalian, luar biasa keren.