Total Tayangan Halaman

Kamis, 21 Mei 2015

I am

 a girl with so much tears, lately




Easily wipe my eyes, out of the blue.


Rabu, 25 Maret 2015

tOekangpoto, Bukan Sekedar Tukang Foto.




foto diambil dari sini

Acara Milad ke 4 tOekangpoto menjadi event pertama tOekangpoto yang saya ikuti. Meski sudah menjadi member di group sejak awal keberadaannya saya belum pernah kesampaian untuk ikut acara-acara yang diadakan oleh mereka. Baik itu acara hunting foto, kopdar atau event –event lainnya. Bahkan ketika acara pameran foto  di blok M yang saya impikan untuk melihat hasil karya anak-anak korban gunung merapi pun pupus.

Alhamdulillah, tanggal 19 Maret 2015 malam,   tikum keberangkatan di stasiun Senen menjadi  awal perjumpaan saya dengan Mbak Amel, Ito, Eka, Zuli, Ira, Mas Dodo,  Pak Oman, Adam, Mas Hafiez & istri berserta Aisyah anak mereka yang pertama kali saya temui,  dan seorang mas yang kemudian saya ketahui ternyata yang biasa dipanggil akrab Mbah oleh yang lain.
Meski sebelumnya saya diundang bergabung dalam grup wasap milad mereka, saya yang termasuk pendiam dan kalem ini, ehem,  agak mati gaya mencoba berbaur. Harapan untuk mengenal secara personal bebrapa teman wanita ketika perjalan menuju Solo akhirnya pun tidak terwujud. Saya berada di gerbong dan kereta yang berbeda dengan mereka. Hahaha. Jangan tanya kenapa saya bisa terpisah rombongan begini.

Stasiun Solo Balapan merupakan titik kumpul semua peserta yang berdatangan dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Semarang. Bahwa ada perserta dari dari Palembang, Gorontalo dan Lampung. Kekuatan apa yang bisa membuat event acara yang “hanya” berbiaya berbilang ratusan ribu ini mampu didatangi oleh peserta dengan mengeluarkan biaya akomodasi yang berlipat-lipat kalinya dari biaya kesertaannya?

Selama acara hunting, walau peserta telah dibagi per kelompok. Ternyata keinginan anggota tp untuk berbagi ilmu melewati batas, baik kelompok, umur dan senioritas pengalaman. Semua terlihat antusias membagi ilmunya secara cuma-cuma. Berkali-kali ditengah kebingungan #sambil pegangan :D  tiba-tiba ada saja yang berbagi tips bagaimana cara menyiasati cahaya, angle, dan lain lain.ahh, such a bleesed. Di Padepokan Keris Brojobuwono, tempat hunting foto kami pertama, saya dibisiki cara mendapatkan percikan api para penempa keris, atau bagaimana mengakali cahaya natural di spot pengikir dan cara mengambil angle yang pas bapak pemahat, semua tanpa saya tanya. di Waduk Lalung ketika matahari malu-malu muncul dan saya asyik  mencari spot-spot untuk makro atau sekedar mencuri moment candid peserta lain, sayapun dibuat senang ketika beberapa mas-mas yang menunjukkan dan berbagi spot dengan mereka yang sedang memoto  para pemancing cilik. Disini saya belajar bagaiman bisa “mengatur” pose para pemancing.  Di air terjun Jumog berkali-kali hasil foto saya menunjukkan hasil yang aneh, utak atik berbagai setingan justru makin memupuskan harapan. Saya edarkan pandangan ke sekitar, saya mencoba menikmati pemandangan undakan air terjun yang bertingkat dengan lensa sempurna milik penciptanya. Indah dan menenangkan. Saya kembali tersemangati demi melihat beberapa peserta yang nyemplung dengan bebagai pose. Apalagi sebelumnya saya sedikit mendapat tips tentang pemakaian filter untuk air untuk mendapatkan efek kapas, tanpa pelitpun filter tersebut sempat dipinjamkan ke peserta lain termasuk saya oleh salah satu senior. Alhamdulillah….beberapa foto cukup menyenangkan hati dapat saya rekam di kamera saya. Hal yang sama juga berulang terjadi ketika hunting foto pemetik teh, sunrise di Candi Ceko. Maaf nama-nama tidak saya mentioned, Allahlah sebaik-baik pembalas. Moga ilmu yang disharing ke kami menjadi amal.  

Hunting foto dengan berbagai aplikasi teori dan teknik udah dilalui, ternyata peserta masih dimanjakan dengan sesi foodphotography  oleh panitia. Adalah Mas Yulim Wicak yang membuat heboh peserta dengan tips-tips dasar foodphotography yang keren-keren.

foto diambil dari sini

Tidak hanya keseruan berlimpah ilmu yang saya dapatkan dalam acara ini. Jujur saya seperti dejavu menghabiskan 3 hari bersama teman-teman yang sebagian baru saya kenal saat itu. Dejavu seperti kembali ke masa-masa rihlah dengan tema-teman jaman sma dan kuliah. It feels like home

Kehangatan dan keakraban sangat kental saya rasakan. Saya sempat kaget bercampur senang ketika Sil Sil mengajak langsung selfie dengan kameranya di jumpa 10 menit pertama kami, tanpa sungkan dia memperlihatkan hasil fotonya dengan harapan saya mau memperlihatkan hasil foto saya," saling belajar yah mbak” begitu dia menjelaskan maksudnya. Beberapa kali kami saling mencari spot bareng, saya kagum dengan angle ga biasa SilSil.
Lain lagi dengan Mbak Woro, peserta dari Magelang ini terlihat bersenang hati membawa tas yang cukup besar, yang ternyata isinya logistik untuk kami di kelompok 8.  Mbak Amel yang saya dibuat kagum akan kegigihannya mencari spot foto, si pecinta operasi kamera manual yang darinya saya diceritakan tentang pengalaman naek gunung beserta tipsnya. Hahaha, sesaat merasa sedang diracuni untuk naek gunung. Omah yang diam kalemnya ternyata menghanyutkan hasil-hasil fotonya. Endra, Duta Wisata Banjarnegara,  ‘ammah kedoyanan Aisyah dan Bulan, favorite Yasmin juga untuk bercerita tentang alam-alam. Zuli yang kalemnya menenangkan. Bu Ika, Ibu Rini, Bu Rahma, Mbak Amel yang keibuannya terasa menganyomi kami selama 3 hari #tsaahh mengayomi. Mbak Eka, Mbak Ito, Mbak Nur, Mbak Mul, Ika DJ, Fajri, Ira,  keriaan kalian membuat saya melalui 3 hari  naek bis tanpa AC, menapaki jalanan Solo-KarangAnyar yang berlubang, menghabiskan malam di aula mesjid Agung Karang Anyar, di uula kecamatan, menghitung masa antri kamar mandi dari jam 3 pagi, menjadi menyenangkan untuk dilalui.

Terima kasih tOekangpoto, telah memberikan kesempatan saya untuk bergabung di komunitas ini. Semoga proyek besar yang sedang digodog segera terealisasi. Semoga tahun kedepan, tOekangpoto  makin peduli dan menginspirasi. Kalian, luar biasa keren.

Rabu, 04 Februari 2015

Lekker Paimo Semarang


Mengingat nama 'besar"nya semula gw mengira kalo lapak Lekker Paimo ini merupakan lapak permanen atau semi permanen. ternyata begitu sampai di lokasi, lapak ini "cuma" gerobak sederhana dilengkapi 2 kompor kecil. Beberapa ember berisi bahan mentah seperti telur, pisang, adonan lekker teronggok disamping gerobak tersebut.


Tempat jualannya begini aja

Sementara gerobak merekapun terasa "penuh" dengan susunan beberapa bahan makanan kaleng: sosis, susu, keju, saus, selai dan ikan. Jalan Karanganyar yang hanya 2 jalur itupun terasa sesak karena sedikit jalanan dipakai oleh para pedangan lainnya yang berharap berkah dari keraimain pembeli di Lekker Paimo. Ditambah beberapa kursi yang disediakan oleh penjual  di depan SMA Kolese Loyola di jalan Karanganyar Kota Semarang itu.
Gerobak kecil begini aja, yang masak cuma 2 orang


Lekker Paimo konon katanya merupakan lekker paling hits di kota Semarang. lekker bisa dibilang crepes tradisional dengan harga yang terjangkau. Dari informasi yang kami dapat dari pengunjung rutin lapak lekker Paimo buka dari jam 10 pagi hingga waktu tidak ditentukan, hingga adonan habis. berbeda dengan penjual lainnya, di sini juga tersedia lekker rasa asin dengan isi beraneka ragam dengan tambahan satu butir telur sebagai pengikat isi seperti sosis, tuna, keju, yang ditambahkan bawang dan sambal. gw langsung memesan karamel, coklat dan pisang coklat serta telur tuna masing-masing 1 pcs.
Pilihan asin manis, favorite saya? Yang orisinal alias yang tipis.



Para pelanggan seperti sudah tahu apa yang dilakukan begitu sampai di tempat ini,  mencari pulpen dan kertas putih yang sudah disediakan kemudian menulis pesanan dan  meletakkan dibawah tatakan anyaman di gerobak, mengantri dengan sabar dan duduk di kursi yang telah disediakan. kecuali kami, yang memubazirkan waktu sekitar 10 menit karena memesan langsung ke penjual yang asyik dengan aktifitasnya sendiri. hehehhe.
pastikan pesanan kamu ditulis di kertas, dan diantrikan oleh si penjual

Setelah hampir 1 jam pesanan kami sudah selesai, sebelumnya kami "cukup beruntung" mencicipi sepotong lekker pisang coklat. semula gw membayangkan kalo pisangnya bakal utuh, ternyata cuma disendok dan langsung dihaluskan ketika dimasak. adonannya memang terlihat beda, lebih halus. ah enaakk., satu tidak cukup.tidak heran ada yang memesan jenis lekker tipis ini dalam jumlah puluhan.
ini fav saya, coklat, karamel dan pisang coklat

sementara untuk yang rasa telur tuna, kok rasanya terlalu asin. lebih mirip telur dadar. not really my things.

telur tuna, not really my thing. too salty




Jika ke Semarang, jangan lupa untuk mampir ke sini. :)























Senin, 26 Januari 2015

Menikmati Hidup ala Abang Bajaj

Dalam sejarah perbajajan, mungkin kemaren abang bajaj kemaren adalah salah satu abang bajaj muda tersabar yang pernah gw tumpangi.

Bajaj  ini nampak luar seperti bajaj biru kebanyakan, yang membuat beda adalah kegaduhan dari laptop yang difungsikan sebagai player mp3. gw tidak berusaha mengometari kegaduhan suara dari player mp3 yang seolah mencabik ketenangan sore romantis karena gerimis itu. Beberapa motor dan mobil yang berhenti karena macet di sepanjang jalan dari harmoni menuju tomang sesekali menoleh ke arah bajaj gw. malah ada mobil waarna hitam membuka kaca jendela sambil berusah melongok ke dalam bajaj dan berkata sesuatu yang tentunya gw ga mendengar sama sekali. si abang masih terlihat sangat santai menikmati pilihan rute jalan yang ternyata macet total.  sesekali mengomentari macetnya jalanan yang dilalui, tidak ada nada keluhan, seperti hanya mencoba membuka percakapan dengan gw yang masih tergugu romantis menikmati jalanan basah. #halah.

sudah hampir sejam, tidak ada pergerakan berarti dari Harmoni ke Tomang. si abang masih dengan tenang menikmati musik ajep-ajep sambil goyang kepala, pelan. sesaat kemudian gw ingat dengan istilah tripping jaman dahulu kala. tiba-tiba entah kenapa si abang duduk dengan amat santai, badan setengah bersandar ke sisi kiri bajaj sambil berujar "Jakarta jam segini, di mana yang ga macet mbak. kalau saya mah nikmati aja, mau kemana lagi". Respon gw cuma bergumam singkat "hooh bang" ditanggapi cukup panjang oleh si Abang. Si Abang bajaj ini mengaku pernah bekerja di sebuah hotel berbintang empat di kawasan Jakarta Pusat, 4 tahun lalu. Di sana dia bisa membekali diri dengan sedikit Bahasa Inggris dasar. "bukan oustsourcing mbak, tapi daily worker" begitu penjelasannya. dari penjelasannya nasibnya hampir sama dengan oustsourcing, tidak ada tunjangan kesejahterahan. "4 tahun cukup bagi saya mbak, mending saya narik bajaj begini walau harus bekerja dari pagi hingga malam tapi minimal saya bisa mengantongi 100rb bersih udah termasuk makan dan sebagainya. saya punya waktu luang, bebas kemana saya mau"

Tambahnya, kemudian dia menjelaskan asal usul media player yang bunyinya mengguncang jalannan Harmoni-Tomang saat itu. Dia mengaku player tersebut dibeli seharga Rp.1.000.000. termasuk CD, speaker dan laptop (?)  mini yang digantung di depan kaca. list lagunya nyaris tidak gw kenali. hahahaha.
"Kalau tidak ada alat ini saya bosan mbak, biar saya beli mahal, tapi saya menikmatinya. toh hasil beli ini juga saya dapat dari bajaj ini".

kadang katanya, ada yang pernah rikues lagu atau film untuk diputar. beberapa list lagu atau film katanya dia beli. eh,  udah ngalahin taxi itu deh ini.

1,5 jam lebih gw bersama si Abang bajaj ini,lebih lama 3 kali lipat dibanding keadaan normal sekalipun tidak ada nada keluhan, umpatan keluar dari mulutnya.







Kamis, 04 Desember 2014

Nasi Kandar di Penang

Daripada gagal posting terus menunggu mood untuk kelar tuntas bikin catper, perjalanan ke Penang baiknya saya cicil sedikit demi sedikit dulu aja.

Nasi kandar,nasi kandar,nasi kandar!


Selama di Penang, bisa dibilang kami tergila-gila dengan menu Nasi Kandar. Ada 4 tempat nasi kandar yang kami coba. 2 diantaranya karena memang masuk list yaitu:   line Clear, yep the famous one, yang berlokasi di jalan Penang, Buka 24 jam dan nasi kandar Beratur yang berlokasi di sebelah Mesjid Kapitan Keling.

Sebenarnya nasi kandar yang terakhir kami singgahi lebih karena termotivasi oleh penduduk lokal yang bersebelahan meja makan dengan kami saat makan di Komtar. Kami merasa diledek ketika dengan jumawa kalo kami telah makan nasi kandar Line Clear yang telah dikunjungi oleh Anthony Bourdain itu. Tau reaksi mereka? "nasi Line clear?, well..bolehlah. Tapi kalo orang sini makannya di Beratur". Secara prinsip do what local do kudu dipegang teguh kalau trip maka di malam terakhir kami bela2in jalan 1km dr lebuh ceulia ke Jalan Kapitan Keling tepat 9:30 malam, 30 menit menjelang jam operasional mereka.

  Ekspektasi kami benar-benar melambung ketika melihat antrian mengular sepanjang 20meter dan mereka baru saja bersiap-siap buka lapak: menyusun meja di trotor jalanan selebar 10meter itu, membuka payung, menyusun kurs-kursi plastik. Beberapa diantara meja telah dalam keadaan diduduki sebagai tanda "reserved". Pengunjung yang kami duga memang sebagian besar penduduk lokal dengan sabar menanti warung nasi yang cuma ukuran toko kira-kira 3x4m itu. Pemesan makanan cukup menjulur kepala di celah estalase kaca untuk menentukan menu pilihan kita. To be honest, mungkin banyak faktor, seperti antrian yang lama, pilihan menu tidak terlalu banyak, take away menu, yang membuat nasi kandar ini not in our fave's list. Karinya terlalu encer, ayam goreng yang kami pilih saat ini juga rasanya so-so, dan tanpa sayur pendamping.(sayang saya ga sempat foto2 di sini dan memoto makanannya)

Nasi Briyani dan Ayam Goreng
Terus apa yang membuat kami terkesemsem dengan nasi kandar Line Clear yang juga berlokasi di gang itu?. Saat itu tanpa antri, pelayanannya cepat dan tanggap, tidak seperti kebanyakan tempat makan kalau udah jadi fave bikin makan hati menunggunya selain itu menu pilihannya juga lengkap. apa aja ada! Hahahha, bumbu nasi briyani,2 ayam goreng, telur ikan, krupuk, nasi putih benar-benar membuat perut kami bahagia dengan membayar RM 20,8! bumbunya berasa .ahh, saya menelan air ludah ketika menulis ini sambil membayangkan nasi kandar dengan kuah kari kentalnya.*glek*
Milo dan es jeruk wajib Coba!
Nasi Putih, sayur, telur ikan dan ayam goreng










Sementara Nasi kandar ke-3 yang kami coba di hari ke-2 adalah nasi kandar yang berlokasi persis di sebelah Line Clear. judulnya kami gagal mengulang kesuksesan makan di Line Clear tanpa mengantri, akhirnya kami mencoba Nasi kandar yang persis berlokasi di sebelahnya. to our surprise, rasanya juga enak. kami sangat terkesan dengan Bapak pemilik Nasi Kandar ini. sangat kekeluargaan, walau tidak penuh da antri tapi saya tidak melihat bangku kosong dalam waktu lama. beliau juga bela-belain mempercepat pesanan es cendol dan es kacang merah yang berjualan di depan tokonya. dan kami cukup kecewa dengan rasa kacang merah dan es cendol. not recomended.

 

Sementara Nasi Kandar keempat yang kami coba adalah untuk sarapan!. berlokasi di Lebuh Ceulia. kami mampir karena benar-benar sangat lapar dan butuh energi untuk hunting street art seharian. jadilah kami menyantap kari canai, nasi putih plus sotong dan ayam plus sayur toge. senangnya adalah pelayan sangat generous ketika saya minta tambahan satu piring sayur toge.
Nasi Kandar Lebuh Ceulia





Minggu, 03 Agustus 2014

Es Cemplung kolang kaling

ok, ini sebenernya udah lama pengen ngarang bikin ini. tapi menunggu ada moment tape ketan hijau nangkring di kulkas, yang kebetulan adanya pas bulan ramadhan. ndilalah pas tape ketan ada, malah males bikin.

saat H+6 saya liat isi kulkas, selain tape ketan hijau ada tape ketan hitam juga. tapi kok yah ga ada cendolnya. adanya nata de coco, kolang kaling.

makin ingin balas dendam karena pas di Solo ga sempat mencicipi es Dawet Selasih Bu Dermi, eh...liat postingan di sini kok kayaknya gampang. aslinya ga nyiplak blass...disesuaikan sesuai isi kulkas dan mood bikin. Saya pakai santan kental sebagai topping daripada sebagai "kuah" es.



Isi (ditata dalam gelas)
1. nata de Coco
2. 4 bh kolang kaling dipotong 3
3. tape ketan hitam (mau pakai yang hijau kok rasanya terlalu "asam" dan "panas" hawanya)
4. 2 buah daging  Nangka disobek kecil2


Siram isi dengan santan kental, kemudian dibubuhi lagi dengan chia seeds yang sudah direndam sebelumnya.

Siuni menambahkan es dan sirup plus ketan hijau. katanya enyaaakkk.me likey too.

Ps; siraman santan kental saya buat persis seperti siraman untuk mango sticky rice.


enjoy,



Jumat, 27 Juni 2014

Dieng, Impian setelah 2 tahun tertunda

 

Setelah berhasil menyocokan jadwal dengan 3 orang lainnya  yaitu Arief mantan teman kantor, Eva teman melingkar, Wiwiek temen komunitas  akhirnya saya berangkat juga ke Dieng tanggal 21-22 Juni 2014. Bertiga kami kemudian karena keadaan memutuskan berangkat Sabtu pagi hari dari senen jam 7:20 dengan kereta ekonomi Fajar Utama tujuan Yogya, turun di Purwokerto tepat pukul 12:45, 15 menit telat dari jadwal.  Selesai sholat di musholah Stasiun, kami makan siang di warteg depan stasiun persis di bawah jembatan posisi sebelah kiri, yang jualan 2 ibu setengah baya. Oh iya, di sini saya pilih menu  pecel lontong (4k) ditaburi tempe sayur (tempe orek basah), plus telur dadar mirip sarang burung, kata si ibuk yang jualan khas Purwokerto, bersama temen yang makan 2 soto, 1 pecel, 2 telur dadar, 2 teh manis, jumlah bon makan siang kami 36k saja. Murce. Saya pribadi suka dengan pecel lontongnya, bumbu ok, sayur tidak terlalu nyampah, dan pas di perut. 
makan siang pecel lontong tabur tempe sayur dan telor gimbal

Dari depan warteg ini kami naik angkot k1 (atau G2 juga bisa kata pemilik warteg) tujuan terminal. Dengan tarif 3k kami sampai di terminal dalam waktu 20 menit di tengah guyuran hujan. Sampai terminal saya sempat kaget mendengar informasi dari kernet Bis Cebong Jaya bahwa jarak tempuh Purwokerto-Wonosobo adalah 4 jam. Wahhh, alhamdulillah tadi ga molor waktu menuju terminal karena sempat mendapat informasi bahwa jarak tempuh Cuma 1 jam, ok ini salah baca informasi tepatnya. Dengan ongkos 25rb, bis tanpa AC ini berjalan terasa lama karena sepertinya bis ini juga berfungsi seperti angkot antar kota, Purwokerto-Wonosobo 4 jam tempuh dengan gaya berhenti angkot.  Sampai Wonosobo kami diberhentikan diperempatan tengah kota, menurut info si kernet kami akhirnya jalan ke arah Pasar, untuk kemudian naek bis menuju Dieng. Jam saat itu menujukkan 17:30 dengan gaya meyakinkan kernet bilang bis yang berukuran kopaja yang telah sumpel dengan penumpang dan  isinya melebihi kapasitas ini  adalah bis terakhir yang menuju Dieng. Dasar anak Jakarta skeptisan, pakai nanya ongkos, si kernet sok malak bilang ongkos 15rb dan kalau pakai tas jadi 20rb. What on earth?!. Si Supir yang kasian akhirnya bilang bahwa kami hanya perlu bayar 10rb, ongkos resmi bis tersebut. Kontur jalan Wonosobo relatif menanjak dan curam, lebih ekstrim dibandingkan kontur jalan Padang-Bukit Tinggi. 

Yap, karena trip ini go show, kamipun langsung menuju penginapan Bu  Jono begitu turun  dari bis, agak nyesel juga karena sebenarnya penginapan homestay di sebelah kelihatan lebih bersih. Tapi kondisi kamar ukuran 2x3m yang bertarif  105 (tarif 75k plus 30rb ekstra bed) lumayan buat ditiduran, kamar mandi luarnya pun lumayan bersih dilengkapi air panas. sebelumnya kami makan mie ongklok, cemilan tempe kemul, geblek (mirip aci goreng) dan nasi goreng jamur Bu Jono yang menurut saya pricey. 
sayang ga mampir di warung makan makan belakangnya, sepertinya pilihannya lebih banyak, ada sup jamur juga.  
nasi goreng jamur, tempe kemul, geblek, mie ongklok




Lagi, karena sudah kecapaian, hampir 12 jam dalam perjalan kami kemudian akhirnya memutuskan untuk menyewa mobil sekalian sebagai kendaraan untuk balik lagi ke terminal Purwokerto keesokan harinya. Nett seharga 950k. Ini  termasuk trip ke Sikunir+ telaga warna+candi Arjuna+ Teater Dieng Plateu+ singgah mampir di Wonosobo dan mengantar kami ke Purwokerto.

Minggu Jam 3 pagi kami bersiap-siap menuju Sikunir, 20 menit  menuju Sikunir  melewati jalanan yang agak berlubang kami disambut oleh puluhan orang yang sudah siap . Di parkiran kami sempat sholat subuh keawalan (pastikan sudah dalam keadaaan wudhu keluar dari penginapan karena antrian toiletnya sangat panjang) . Saya pribadi siap dengan  kaos thermal atas bawah, celana bahan, kaos panjang dan jaket kebanggaan berwarna merah Kalau bisa sertai juga dengan senter, walau banyak rombongan yang membawa senter tapi kadang beberapa kali sempat  berhenti karena kehilangan cahaya , oh ya lupakan wedges (sempet mau berwedges..hahha) , pastikan memakai bersepatu nyaman, atau bersendal jepit seperti saya yang dibeli  di  warung  depan penginapan.  jalan landai berbatu kadang terasa sakit di kaki,  atau tanjakan tajam butuh pijakan kaki yang oke.
Untuk yang sering naik gunung mungkin hanya butuh waktu 30 menit tidak seperti kami yang butuh waktu hampir satu jam.

Sampai di puncak Dieng jam 5:16 hampir semua titik menghadap matahari terbit sudah diduduki oleh  pengunjung, juga ada beberapa kemah yang didirikan, tampaknya mereka bermalam di sini.
Alhamdulillah, satu lagi dalam keranjang impian bisa digeser, melihat matahari terbit di Dieng. A list comes true. Saat itu matahari tidak bulat, sepertinya malu menampakan wujud bulat sempurnanya tapi, hei, saya ada di puncak tertinggi di desa tertinggi dpl di Pulau Jawa, how cool is that? 


Perjalanan selanjutnya ke Sikadang, Batu Ratapan Angin yang berada dibelakang  Teater Dieng Plateu untuk melihat Telaga Warna, Telaga Warna dan Candi Arjuna. 

Sikadang
Yang paling saya suka di Sikadang adalah: pasar tradisionalnya. Kentang  dan jamur goreng yang dicari dari pagi akhirnya ditemukan disini dan kemudian ada di semua destinasi wisata di sini. Beli yang rasa plain aja, tidak perlu dibumbui dengan taburan msg berwarna mengerikan itu, rasanya udah okeh kok.  Kentang atau jamur ini bisa dibeli dengan harga Rp 5.000 atau Rp 10.000. Saya suka pasar tradisional, kalau ga ingat dengan ransel, di sini hampir mau beli kentang 2kg karena melihat kesegarannya. Ada kentang merah juga. Pantesan dieng merupakan merupakan kota penghasil kentang terbesar di Indonesia. 

 Tujuan selanjutnya adalah Teater Dieng Plateu, di sini kami menonton asal usul Dieng dan potensi wilayahnya, film dokumenter berdurasi 20 menit ini diputar di layar besar semacam layar tancap. Cukup menarik despite fasilitasnya.
Sebelum ke Teater kami menyempatkan diri mampir ke Batu Ratapan Angin. Semacam point view kota Dieng dengan hits viewnya, Telaga Warna. Cuma berjarak tempuh 5 menit dari teater cukup takjub dengan view perbukitan Dieng dari sini, keren. Kudu ke sini pokoknya kalau ke Dieng yah. 

Dikejar waktu kami kemudian menuju Telaga Warna  dan Candi Arjuna. Karena kami menargetkan jam 1 sudah menuju Purwokerto kami tidak terlalu berlama-lama dan beringsut ke mobil menuju penginapan.


Di Wonosobo kamipun menodong guide kami membawa kami ke mie Ongklok. 
Mie yang dicampur dengan kol dan siramin kuah kental  dan daun kuai ini ternyata berbeda bentuk penyajian dan porsi dengan yang kami makan di depan penginapan di Dieng, selain porsi yang lebih kecil  Mie Ongklok Longkrang ini disajikan dalam porsi lebih kecil, kuahnya tanpa irisan tahu , dan di sini pemburu kuliner memakan mie ongklok dengan sate daging sapi yang diberi kecap dan sedikit bumbu kacang kental. Dengan 5 mangkok mie ongklok, 2 porsi sate@ 10 tusuk, 2 teh manis, 11 gorengan tempe kemul, cukup dihargai dengan 67rb. Tempe kemul adalah gorengan yang kami gilai sejak kami menginjak kaki di Dieng. 
di Mie Ongklok Longkrang yang antri plus pelayanan butuh stok sabar, but it worth the wait


Tempe kemul  mirip sepaham dengan tempe mendoan, bedanya tempenya Cuma sepotong kecil, tidak memakai daun bawang seperti mendoan tapi berlimpah daun kucai, dan adonan tepung yang sepertinya ada campuran tepung beras dan sedikit kanji sehingga tekstur gorengannya menghasilkan sensasi kriuk dan agak kasar. Wuihh....reviewnya udah ala food tester. :D


di Dieng kami beli oleh-oleh wajib, carica!. di Purwokerto kami mampir ke Getuk Goreng H. Tohirin, duh getuk panas dinikmati es dawet yang nongkrong di depan nya. nikmaatnya ga ketara.getuk goreng setengah kilo dbandrol 11k sedangkan segelas dawet ayu 4k.

Carica versi baru dengan sirup bit, ga ngaruh juga sih, secara cuma suka makanin isinya. hehheh