Total Tayangan Halaman

Jumat, 14 Desember 2012

[Trip] Kiluan Lampung


Trip kali ini terasa sangat pendek dan panjang. Pendek karena Cuma memanfaatkan waktu wiken sementara jarak jalan yang kami tempuh untuk menuju dan hanya duduk manis didalam mobil aja  sampai ke Kiluan dari Jakarta adalah kurang lebih 12 jam yang kemudian bikin trip ini menjadi sangat panjang, pegel!.

hari 1 & 2
Jam 10 malam diwarnai hujan on off  membasahi  Jakarta, hampir on time kami, ber 15: 2 crew NextTrip, 10 travelmate, 3 teman perjalanan baru kami berangkat menuju Pelabuhan. Sayang ga sempat bernostalgia melihat anak2 kecil pengumpul koin karena kami sampai di sana pagi buta, sekitar jam 12an. Kami memilih untuk pindah kelas dari kelas 3 yang penuh dengan asap rokok dengan menambah 10rb  (tanda masuk bertiket) untuk kelas  executive kapal, kelebihannya ada sofa yang kemudian jadi tempat tidur bagi penumpang lain yang tidak menghiraukan penumpang lain yang tidak kebagian sofa. Sang awak kapal kemudian berinisiatif untuk gelar karpet. Berasa piknik. Toilet ala kadar, dan tidak punya fasilitas charger seperti kelas 3. Perjalan dengan kapal kali ini memakan waktu lebih kurang,3jaman. Kekhawatiran akan terjebak di Merak, akibat efek jangka panjang karena keributan para pengemudi truk. Alhmadulillah....perjalanan di kapal cukup lancar.
Pukul 4 pagi, crew membawa kami somewhere yang kami tidak tau itu dimana, hehhehe. Rasa2nya itu sudah pusat kota Lampung, untuk sholat subuh dan rehat sejenak. Sepertinya penginapan gitu.  Satu jam kemudian kami diajak menikmati sarapan pagi yang kepagian. Nasi uduk ala Lampung. Kami memilih untuk membungkus nasi uduk tapi berakhir dengan duduk-duduk manis di warung sambil ngopi dan ngeteh karena menunggu nasi uduk bungkusan, halah, sama aja buang waktunya.

Karena melenceng dari iten, akhirnya tujuan kami ke pantai Klara dan Queen Artha kami skip, dengan perjanjian akan kami siggahi ketika pulang nanti. Dengan sesekali becanda dan kantuk-kantuk ayam kepagian,  dari kota Lampung kami menuju teluk Kiluan.

Tepat pukul 9:40 pagi (intip details foto), kami memasuki daerah tanpa sinyal. Teluk Kiluan,
 Kelumbayan Kab. Tanggamus Lampung.

selamat datang di negeri tanpa sinyal. :p

Yang namanya sinyal paling kuat, sinyal sampai kuburan bener-bener mati di daerah sini, kecuali Ceria. Tapi ternyata sesekali di Pulau Kelapa beberapa teman pengguna operator Tekomsel sempat menggunakan handphone. Dari gapura selamat datang inilah tantangan perjalanan darat sesungguhnya dilanjutkan. Jalanan lumayan berbatu, sesekali kami menyaksikan bekas longsoran tanah dari perbukitan sebelah kanan jalan. 2 kali juga kami turun dari mobil untuk lanjut jalan kaki sekitar 50 meter karena mobil harus masuk kedalam semcam lubang (sungai kecil?) karena jembatannya sudah sepuh. disini juga kami sempat menumpang ke kamar mandi (yang ternyata open space sodara sodara) karena kebelet. Tepat jam 10 pagi kami sampai di penginapan yang berbentuk rumah panggung. Cuaca sangat cerah. Panas. Sejenak kami beristirahat dan makan nasi uduk rasa keringet mobil. :p. Sampai dengan jam 1 siang kami sampai begah bernarsis-narsis foto-foto ala kalender  untuk tahun 2013, atau malah cukup untuk tahun 2014 dengan iringan suhu fotogfarer, Mbak Ndaru. Hahhah. Jadi inget macam2 kejadian lucu saat foto fiti.







Untuk selanjutnya kami bersiap-siap menuju candi yang konon katanya posisinya tidak terlalu jauh dari penginapan. Menapak jalan masuk ke dalam daerah pantai ternyata ombak cukup besar saat itu, posisi candi yang berada didalam “goa” (?) dan perlu melewati terpaan ombak diantara batu bebatuan cukup menyiutkan nyali. Hanya beberapa yang masuk kesana, sampai ada insiden jatuh karena bebatuan yang licin.

Candi dengan bebatuan licin bonus terpaan ombak

Ga terlalu berla-lama khawatir waktu untuk snorkling terbuang kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kelapa. Snorkeling dan hunting sunset. Menurut saya, Pulau Kelapa tempat yang lebih strategis dibandiing Teluk Kiluan, Pulau dimana kami menginap. Selain berada ditengah, hunting sunset dan sunrise sepertinya menyenangkan, ga perlu naek jungku, Pulau Kelapa ini juga bagus pantainya (tidak berbatu-batu dan dangkal seperti Teluk Kiluan), jadi kalo bosan dirumah bisa langsung nyebur, oh iya...di Pulau Kelapa ini masih dapat sinyal, pengguna telkomsel silahkan unjuk hape!. Sebenernya agak khawatir juga ga dapat sinyal, takut kenapa-napa di rumah terus ga bisa dihubungi. . oh ya, konon di Pulau kelapa ini tarif penginapan yang Cuma satu-satunya lumayan lebih mahal dibanding yang lainnya. Konon ada tenda-tenda yang tersedia kalau kehabisan kamar penginapan.


Di Pulau Kelapa ini,  ketemu dengan Bapak-bapak yang punya Pantai. Karena kalau mau snorkeling kudu “ngelapor” dulu kebeliau. Ehhehheh. Beliau menyewakan alat snorkling (tanpa fin) sebesar Rp.25.000 dan dengan kesenangan hati pula beliau akan membawa dan mengajar yang ingin snorkling. Yang ga bisa berenang kayak gw juga bisa banget juga. Hehehhe.
Untuk keindahan bawah laut, kata teman-teman yang serius bersnorkling, pemandangan bawah lautnya: so so..., jauh indahan di Pulau Seribu. Oh well....ga masalah, karena gw bukan penikmat laut juga sebenarnya. tapi jika dibandingkan dengan Belitong, emang ga seberapa untuk undwerwaternya. Berani cukup nyebur dan narik-narik tity karena panik kebawa arus sambil berfoto2 sebentar kayak cukup buat gw. *aduh...ini kapan bisa beraninya masuk ke air kedalaman* .


Puas berhahahihi dan foto2, dari pantai depan  Pulau Kepala, kami ke Belakang Pulau, siap hunting sunset. Alhamdulillah...cerah. dari jam 5 hingga 6 sore kami puas hunting sunset dan bertahan di satu spot bebatuan. Jam 6 sang guide sudah mengingatkan kami untuk segera balik ke Teluk Kiluan. Walau rada-rada bertahan karena sunsetnya makin keren, akhirnya kamipun bubar dengan beberapa teman yang ternyata telah beringsut duluan ke pinggir pantai menuju jemputan Jukung


sunset di Pulau Kelapa

Hari ke 3
Setelah sarapan nasgor telor dadar, dari jam 5 pagi kami sudah bersiap-siap untuk agenda utama trip ini, hunting Lumba-Lumba ke Samudara Hindia!. Sempet salah persepsi tentang iten, gw malah berfikir kalau hunting lumba-lumbanya dari pagi buta. Hahhaha. Akhirnya berangkat jam 7 pagi. Langit tidak terlalu cerah. Jantung kempas kempis melihat kapal jungku yang maksimal hanya boleh diisi 4 orang untuk membela Samudra. Mulut komat-kamit sepanjang jalan....ombaknya gede banget. Ditambah pak Pandi, crew Jungku gw kok arah jalannya ga mengikuti 4 kapal sebelumnya yang jalan agak ke pinggir. Ini kok malah ketengah-tengah sorangan wae. Karena duduk di paling depan kapal, ga bisa tengak-tengok kebelakang, teriak nanya kenapa jalannya beda juga jadi ga ada gunanya, ga kedengeran, kalah sama ombak. Hati makin kempas kempis, jantung dag dig dug. Ombak makin kenceng, adrenalin makin terpicu, kora-kora Dufan? Lewat!. Rintik-rintik air mulai turun. Duh Gusti Allah, jangan sampai hujan, nanti si lumba-lumba mabur. Hampir 45 menit kami terapung-apung ditengah samudra, hati mulai tenang karena ombak tidak terlalu besar, pemandangan dari sang langit mulai menenangkan hati. Banjir ROL.


banjir ROL pagi di Samudra Hindia
Walau tidak terlalu berani mengeluarkan kamera. kamera saku aman diwatercasin, SLR didekep dengan plastik zip di dalam tas. Sang Lumba-lumba belum muncul. Pak Pandi mulai bersenandung yang gw pikir untuk memanggil sang lumba-lumba. Gw dan Eva, ikutan meniru. Sesekali bertepuk tangan dan meniup peluit di life vest. Ah, sotoy banget. Ga ngerti apa cara itu kemudian berhasil. Yang jelas beberapa menit kemudian Pak Pandi menunjuk dan memberitahu kami setengah berteriak      “ itu....udah ada!” sekali kami menengok, Lumba-lumbanya ilang. Sambil terus berdoa agar dipertemukan dengan belahan hati, eh, lumba-lumba maksdnya, kami terus melaju Jukung, sambil melihat tanda-tanda penampakan Lumba-lumba.


Tidak jauh dari kami, ada kapal Jukung lain yang mengibar-ngibar kain di tangannya, semacam memberi kode kepada kami untuk menuju point tertentu. Ternyata........sang lumba-lumba muncul. Huwwaaaaaaa.......udah ga sempat mikir. Munculnya bergerombolan dibeberapa titik. Jadilah kemudian kami menahan diri untuk tidak terlalu excited melihat kemunculan lumba-lumba, ucapan Andri, guide kami sebelum berangkat setelah berdoa masih terngiang-ngiang “mohon jangan terlalu banyak bergerak selama dikapal, buat gerakan seperlunya aja, jangan  terlalu excited ketika melihat lumba-lumbany, biar ga terlalu bergerak”. , kalem sih dia ngucapinnya. Tapi demi ombak yang tinggi berkecamuk tadi, gw rela kalem melihat lumba-lumba itu. Kalem-sekalem2nya deh. Cuma tangan dan teriakan memuji Sang Pencipta  sambil mewek sedikit. Hahhahah. Oh iya, MBak Lulu sempet cerita sedikit tentang hewan favoritnya ini: ketika ditepokin maka lumba-lumba makin happy. Dan gw bisikin itu ke Eva menjelang berangkat juga terus bawel ketika ketemu lumba-lumba “Eva tepok tangan lagi....” gw siap ama kamera (akhirnya berani dikeluarkan dari plastik). You know what, somehow gw berpikir lumba-lumba itu mengiringi Jukung kami berjalan.



Kami sedekat ini dengan si LUmba-lumba


Huwaaa...gw simpan kamera! Ga mau foto!. Mau direkam di mata aja.  Bergerombolan sirip mereka keliatan. Sesekali pamer badan kekami. Kalau ga nahan diri mungkin tangan udah mulai dicempulingin kelaut untuk menyentuk mereka.
Subhanallah!, gw tergetar. Senang, haru, kagum luar biasa. Sempat pula melihat anak lumba-lumba meloncat sekitar 1 meteran. Mungkin sekitar 10 menit kami melihat gerombolan lumba-luma yang itu, jukung-jukung lain mulai merapat , sayangnya bikin sang lumba-lumba ngacir. Walau ga dapat foto bagus, Ga berhenti-henti berucap syukur dan puji2 Allah. Semua perjalan pendek melelahkan ini terbayar. Dan dengan bangga bisa bilang ke teman kantor.

“percaya deh, liat lumba-lumba ditengah samudra (dan ga bisa berenang ) itu jauh lebih fantastik dibanding dengan lumba-lumba unyu di Gelanggang Samudra Ancol” :D


jam 11 siang kami menuju Jakarta, singgah ke Pantai Klara yang ramenya  khas pantai liburan. beli kripik pisang dan sempat mampir di toko fastfood terdekat karena kelaparan. hehehhe. kali ini perjalanan pulang menempuh lebih dari 12 jam, mobil kami sempat tersendat di Merak., jam 11 malam kami masuk kapal, jam 12 kapal baru melaju yang kecepatannya lebih rendah dibanding keberangkatan kami, oh iya, kali ini di Kapal kami mengambil kelas lesehan. bayar 8ribu (bertiket) dan bayar bantal 2 rb (rasanya ini jualan orang kapal aja karena tidak bertiket). karena penat kami cukup bete dengan AC ruangan yang seharusnya menyala tapi matot sama sekali. jam 3 pagi, saya dan beberapa teman baru sampai di rumah dengan selamat.

note:
1. trip menggunakan jasa EO dengan biaya 695rb incl : transportasi,makan 6 kali, penginapan, sewa kapal (jukung : untuk snorkling dan hunting sunset serta berburu lumba-lumba), air mineral, dan sesekali di foto2.
perjlanan Jumat Malam menuju lampung- Minggu siang menuju jakarta (estimasi one way 12 jam)

2. siapkan makanan snack dan minuman untuk perjalanan selama di mobil jkt-lampung-jkt.

3. lampu hanya hidup hingga jam 6 pagi dengan bantuan genset

4. siapkan watercase yang memadai selama hunting lumba-lumba. konon sudah ada korban SLR karena Jungku terbalik. :p

5. kecuali menggunakan mobil 4 kali 4 (4WD) perjalanan menuju lampung ini sungguh tidak disarankan untuk anak kecil. kasian euy, jalanannya masih berlubang sana sini.



2 komentar:

  1. wah, kalo saya ngga salah interpretasi, kayaknya yang bikin menarik itu cuma lumba-lumbanya aja ya Mbak? bahkan snorkelingnya pun masih bagusan pulau seribu? wew, ngga ngerti lagi deh kalo sampe ngga dapet momen lumba-lumba itu jadinya gimana. makasih banyak infonya Mbak, jadi pertimbangan banget :)

    BalasHapus
  2. menurut saya begitu. makanya kemaren agak deg2an juga ketika pagi itu lumayan gerimis,. kebayang dengan perjalanan nyaris seharian tapi ga dapat agenda utama: melihat lumba-lumba. tapi alhamdulillah...kesampaian and worth it.

    mungkin kalo lebih dari 1 hari disana, bisa kesempatan lebih banyak yah.

    BalasHapus