Total Tayangan Halaman

Rabu, 05 September 2007

Debat : manis-manisan...

2 hari lalu dapet imel judulnya "Jangan berbuka dengan yang manis". cukup kemakan juga sama tulisan blog seseorang (sengaja tidak dimunculkan namanya). karena ingat juga kata Ustad Tengku....pas Mabid dimesjid BI. "isunatkan untuk berbuka dengan sesuatu yang tidak dimasak api atau air putih saja"  konon katanya, cuma orang Indonesia yang memasak air putih,masuk akal juga  karena alasan kebersihan.

Tidak berapa lama kemudian dapat imel di milis dengan Judul "salah kaprah part 1" ternyata membahas imel yang pertama. untuk wacana, atau ada masukan dari temans..

 

====================================================

IMEL I:

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

BENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis; katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud) Nabi Muhammad Saw berkata : Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci. Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan yang manis-manis ? Tidak !!.

Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) . Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) .

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham/faham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah sunnah Nabi. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa disunnahkan minum atau
makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis. Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa manisan kurma, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal.

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara indeks glikemik (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah ilmu tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau. Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah manisan kurma, bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.

Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti buah pir, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah sunnah, maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.

Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula sedikiiiiiit) , atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran segar, dan air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya (gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari.

Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi karbohidrat- protein-lemak- air proporsional. Dan tentu tidak untuk balas dendam; karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu makan sekenyang-kenyangny a. Belajar sabar.

Nah, saya kira, berbukalah dengan yang manis-manis; itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, berbukalah dengan yang manis itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu. Semoga tidak termakan waham umum: berbukalah dengan yang manis. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang. Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong.

Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang, kata Rasulullah.

Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Madi Kasib)

 

===============================================

IMEL ke-2 : Salah Kaprah Part 1

Wah kritis juga bahasannya, sayang nggak disebutin dari mana asalnya. Saya coba sedikit googling ternyata artikel tersebut berasal dari blognya ................


Saya mencoba mengkritisi artikel tersebut.

1. Hadist tetang kebiasan Rasullulah berbuka dengan kurma memang shahih (Anas bin Malik dan Abu daud).

2. Kandungan kurma (dates) yang telah matang paling banyak bukan karbohidrat komplek (starch, fiber, selulose) melaikan sudah merupakan karbohidrat sederhana (sukrose, glukose, fruktose, maltose, dll). Rata2 kurma tersebut mengandung 67% karbohidrat sederhana (gula sederhana). Mohon lihat lampiran.

3. Mengapa gula sederhana bagus untuk berbuka?, gula sederhana adalah nutrisi yang paling cepat diserap tubuh untuk bahan energi. Kita mungkin berpuasa rata2 13 jam. Bisa dibayangkan kalo kita berpuasa didaerah yang siang harinya lebih panjang (rata2 15-18 jam). Harus cepat dapat asupan energi.

4. Berbuka dengan yang manis, bukan sesuatu yang salah kaprah. Kurma di ijtimakan dengan sesuatu yang manis (gula sederhana).

 

 

4 komentar:

  1. wah .. tulisannya terlalu kompleks juga..:) jadi bingung..
    kalo Bul berbukalah dengan apa yang disediakan orang rumah, kalo ada kolak ya makan kolak kalo ada kurma ya makan kurma, terserah deh..hehehe

    BalasHapus
  2. hihii.., asal jangan bablas yah Mas, ntar malah ga bisa taraweh. terimakasih telah mampir, salam kenal yah. ^_^

    BalasHapus
  3. Pusiiingg.....ya semoga amal ibadah kita diterima de....Amiiiinn..yang penting jaga pola makan aja yuuukk hahaha....

    BalasHapus
  4. yuk, mbak. jangan pusying2 yah, ntar atit..hihii

    BalasHapus